Beranda > Kisah & Teladan > Kisah tentang sebuah kepercayaan

Kisah tentang sebuah kepercayaan


Kisah tentang Sayidina Umar Bin Khatab ketika beliau menjabat sebagai khalifah.

Suatu hari, datanglah ke kalangan beliau yang tengah bersama para sahabat, 3 orang pemuda. Dua orang diantara mereka memegangi yang ketiga. Sang khalifah bertanya apa tujuan mereka. Kedua orang pemuda itu menjawab bahwa pemuda yang ketiga telah membunuh ayah mereka. Mereka menangkapnya dan membawanya kepada khalifah untuk meminta keadilan.

Sayiddina Umar bin Khatab bertanya kepada pemuda ketiga apakah semua benar adanya. Ia menjawab, “Ya, memang benar. Tidak ada seorangpun saksi kejadian itu, kecuali Allah. Dengan seizinmu, akan kuceritakan apa yang terjadi, dan akan kuterima dakwaan apapun yang akan engkau ajukan. Aku datang ke Madinah pagi ini untuk mengunjungi makan Nabi yang mulia. Kuikatkan kudaku ke sebatang pohon kurma ditepi jalan dan aku membersihkan diri dari debu jalanan.

Belum lagi aku selesai, kudaku mulai memakan buah kurma. Ketika aku mencoba menangkapnya, ia mematahkan salah satu cabang pohon kurma. Saat itu kulihat seorang lelaki tua berlari menghampiriku. Sambil marah, lelaki itu mengambil sebutir batu besar dan melemparkannya ke arah kudaku. Batu itu membentur kepala kudaku dan kuda keakunganku roboh ke tanah, mati. Aku jadi ikut marah. Kuambil batu yang digunakan untuk melempar kudaku tersebut untuk melempar kembali ke arah orang tua tersebut. Ia juga akhirnya roboh ke tanah setelah terkena lemparan batu tersebut, roboh dan mati.

“Aku bisa saja kabur dan melarikan diri, tidak akan ada orang yang tau siapa yang telah membunuh orang tua tersebut. Tetapi aku lebih suka menjalani hukuman di dunia ini, daripada nanti di akhirat.

Aku tidak bermaksud membunuhnya, aku hanya dikuasai oleh amarah ketika dia membunuh kudaku.

Sayidina umar bin khatab berkata, “Engkau telah mengakui suatu kejahatan besar, sesuai dengan Hukum Islam, hukumannya adalah mati. “

Walaupun diancam dengan hukuman mati, pemuda tersebut tetap bersikap tenang. Ia berkata, “sebagai seorang beriman, aku terikat kepada hukum. Akan tetapi, saat ini di kampung asalku, aku sedang memegang harta seorang anak yatim. Kusembunyikan di suatu tempat yang hanya aku saja yang mengetahuinya. Seandainya aku dihukum mati sekarang, harta itu bisa hilang. Tolonglah beri aku waktu selama 3 hari, sehingga anak yatim tersebut tidak akan sengsara hidupnya. Biarkan aku pergi kesana dan menyerahkan harta itu kepada pemiliknya.”

“Aku tidak dapat mengabulkannya,” kata sayiddina umar bin khathab, “Aku hanya bisa mengizinkanmu pergi apabila ada orang yang dapat menjamin kehadiranmu kembali ke sini.” Sang pemuda berkata, “Wahai Khalifah, aku tidak melarikan diri ketika orang tua itu terbunuh. Waktu itu aku tidak mau, sekarang pun aku tidak mau, karena hati nuraniku merasa takut kepada Allah.” Sayiddina Umar berkata, “Anakku, aku percaya bahwa engkau tidak akan melarikan diri, akan tetapi hukum melarangku untuk melepaskanmu tanpa jaminan.” Sang pemuda menatap para sahabat yang hadir disitu. Ia menunjuk kepada Abu Dzarr al-Ghifari dan berkata, “Ia akan menjamin aku kembali ke sini.” Sayidina Umar bertanya kepada Abu Dzarr apakah ia setuju. “Ya aku setuju”, kata Abu Dzarr “Aku menjamin bahwa pemuda ini akan kembali dan menyerahkan dirinya sendiri dalam tempo tiga hari.“ Tidak ada yang berani membantahnya, mengingat beliau adalah seorang sahabat Nabi yang paling terpercaya.

Sang pemuda berangkat ke kampung asalnya. 3 hari berlalu dengan cepat. Kedua putra si orang tua yang terbunuh itu datang kembali menghadap Sayidina Umar. Sang pemuda itu belum ada disana. “Abu Dzarr,” teriak mereka, “Kemana orang yang engkau jamin itu? Engkau berani menjadi jaminan dari orang yang tidak engkau kenal, orang yang belum pernah bertemu sebelumnya denganmu. Apabila ia tidak datang kembali, kami tetap akan menuntut balas atas kematian ayah kami.

Dengan tenang Abu Dzarr berkata, “Tiga hari belum lagi berlalu. Seandainya si pemuda tidak muncul, aku yang akan menanggung hukumannya. Para sahabat yang hadir merasa terharu.

Khalifah Umar berkata, “Abu Dzarr, pemuda itu bisa jadi terlambat datang, tetapi engkau menjaminnya hanya untuk 3 hari, sebagaimana disaksikan Allah dan para sahabat yang lain. Bila terjadi demikian maka aku terpaksa melaksanakan hukuman itu kepadamu.”

Semua yang hadir merasa terharu, mengingat Abu Dzarr adalah salah satu diantara mereka yang paling taat. Mereka menawarkan uang ganti darah kepada kedua pemuda yang ayahnya terbunuh itu. Tetapi mereka menolak dan bersikeras meminta ganti jiwa bagi jiwa ayah mereka.

Ketika waktu hampir saja berlalu, tiba-tiba muncullah pemuda yang ditunggu-tunggu, tubuhnya penuh debu dan terlihat kelelahan. Dengan terengah-engah pemuda tersebut menghampiri Umar. “Aku siap untuk menerima hukuman yang telah dijatuhkan untuk aku”, ucap pemuda tersebut.

Umar dan orang-orang yang berkumpul disitu merasa terharu sekaligus kagum dengan kejujuran atas perkataan pemuda tersebut. Begitu juga dengan kedua putra yang orang tuanya dibunuh oleh pemuda tersebut. Mereka sangat kagum dengan kejujuran kata-kata pemuda itu.

Lantas Umar berkata, “Wahai anak muda, hatimu sungguh mulia, engkau bisa saja melarikan diri dari hukuman yang telah dijatuhkan kepadamu tanpa harus kembali kemari dalam jangka waktu yang telah ditentukan.”

Sang Pemuda menjawab, “Bagi ku pertanggungjawaban kepada Allah lebih berat daripada kepercayaan yang diberikan Sayidina Umar bin Khatab kepada aku, laksanakanlah hukuman itu, aku siap dan rela untuk menebus kesalahanku demi ketentuan dan hukum yang berlaku.”

Umar bin Khattab menghampiri kedua putra yang orang tuanya terbunuh, “Apakah kalian sudah siap untuk menyelenggarkan pengadilan ini ?”

Salah satu dari kedua orang tersebut berkata,” Sayidina Umar bin Khattab, dengan ini kami membatalkan tuntutan kami untuk menghukum dan mengadili pemuda tersebut. Kami sangat menghargai kejujuran beliau, dan kami merasa sangat kecil sekali dihadapan beliau dengan segala kejujurannya. Kami ikhlas untuk mencabut hukuman tersebut.”

Umar berseru.” Kalian yang hadir disini menjadi saksi atas keputusan yang dibuat oleh kedua putera yang ayahnya terbunuh oleh pemuda ini!”

Pada akhirnya pemuda tersebut luput dari hukuman yang telah dijatuhkan karena keikhlasan dalam melaksanakan kepercayaan yang diberikan.

Kategori:Kisah & Teladan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: