Arsip

Arsip untuk Juni, 2011

Dengan Apakah Harus Kutuntaskan Puisi

Juni 29, 2011 2 komentar

Dengan apakah harus kutuntaskan puisi
dengan menggoreskan luka di jari agar mengalir darahku
hingga setiap kata berdebar seperti jantungku..

Atau,

dengan tetesan keringat yang membungkus punggungku
agar tahu puisi adalah kerja keras mencangkul di tanah cadas
setiap kata tumbuh dari ketulusan berkarya…

Atau,

dengan airmata yang meloncat-loncat seperti huruf-huruf di papan ketik
mengikuti apa saja yang aku tulis, ia seperti sebuah perasaan
meloncat-loncat di dalam hati lalu meloncat keluar sebagai airmata…

Atau,

dengan langkah-langkah kita menyeberangi jembatan ke jembatan
yang menyatukan seluruh musim dalam peta perjalanan
setiap kata adalah petunjuk di mana kita hadir bersama…

Atau,

dengan senyuman yang membuat indah setiap pertemuan
dan pelukan hangat yang menyudahi setiap inci jarak
setiap kata adalah perekat nafas kita ke dalam satu makna..

Atau ,

dengan ciuman sebagai tanda petik setiap kalimat cinta
kalimat yang melahirkan sajak-sajak yang mengalirkan sajak-sajak
sebab cinta tak pernah kehabisan sajak…

Atau ?? atau ??? atau ????

21 juli

Categories: Puisi

kesetiaan

Demi kesetiaan..
Buang jauh keraguanmu.
Jangan pernah berpikir aku akan berpaling
Karna itu akan membuatmu resah..

Tuanglah anggur putih ketulusan,
Sebagai jamuan penghormatan suci.
Diantar pengabdian cinta sejati,
meski getir menantimu..

bukankah kita tau..
tak ada keutamaan dalam bercinta,
selain derita yang mesti dimengerti

dan demi kesetiaan..
ku persembahkan hatiku untukmu
meski tanya menggelitik hati ini,
salahkah aku jika pergi ‘tuk memiliki …???

Categories: Puisi

kata kata mutiara

Kita bisa membeli Jam tapi kita tidak bisa membeli Waktu (Rini Nurdiani)

“Cinta itu, mengambil kesempatan, atau mempersilakan yang lain”

cinta adalah kata lain dari memberi… sebab memberi adalah pekerjaan… sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama… sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh… maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!

Memaafkan Adalah Kekayaan Yang Tak Ternilai..

Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran menjadi nyata

-mine is what i feel and what i taste-

no day without inspiration, no day without the initiative
Art without borders

-Bukan titik yang menyebabkan tinta, tapi tinta yang menyebabkan titik -

“Jalan itu licin dan menggelincirkan. Satu kakiku terpeleset di atasnya, menendang kaki lainnya keluar dari jalur, namun aku kembali tegak dan berkata kepada diriku sendiri, “Itu cuma terpeleset dan aku bukan jatuh!!”

”Menyerah berarti membiarkan orang lain menjadi pemenang. Sedang kehidupan itu adalah kompetisi untuk kita menangkan. Hujan kan datang setelah ini…membawa kesejukan bersama salam dari pelangi”..- AM -

-saya adalah seseorang yg tidak pernah kenal anda
tapi sy adalah seseorang yg selalu mencintai anda -

telah ku kirim doa pda hembus angin, telah ku titip mtaku pada purnama, agar tak ku lepas tatapanku. Hingga nanti fajar beridiri dan embun terjadi…cintaku kan terbentuk bersama butiran2 cahaya matahari …
:: good nite my inspiration :)

karena bukan apa siapa dan bagaimana, tapi luruskanlah dalam wangi surga
karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta . .

my facebook : ” Kamu Add Saya Confirm
Kamu Wall Saya Replay
Kamu Coment Saya Balas
Kamu Remove Ga Masalah !! “

” Saya tidak ingin hidup. Aku ingin cinta pertama, dan hidup secara kebetulan “

” Mungkin mata kita perlu dicuci dengan air mata kita sekali-sekali, sehingga kita dapat melihat Hidup dengan pandangan yang lebih jelas lagi”

” Kadang-kadang keputusan terkecil yang dapat mengubah hidup Anda selamanya… “

” Lihatlah kehidupan melalui kaca depan, bukan kaca spion “

” Hidup adalah seni menggambar tanpa penghapus. “

” Kenikmatan terbesar dalam hidup adalah melakukan apa yang orang mengatakan Anda tidak bisa lakukan. “

” Tidak ada yang bisa kembali dan memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini dan membuat akhir yang baru. “

” Perbedaan antara sekolah dan kehidupan? Di sekolah, Anda mengajarkan pelajaran dan kemudian diberi tes. Dalam kehidupan, Anda diberi tes yang mengajarkan Anda pelajaran. “

” Dalam cinta, lebih baik untuk tahu dan kecewa, daripada tidak tahu dan selalu bertanya-tanya. “

“Jauhkan cinta dalam hatimu. Hidup tanpa itu seperti sebuah taman tanpa matahari ketika bunga sudah mati. Kesadaran mencintai dan dicintai membawa kehangatan dan kekayaan hidup bahwa tidak ada lagi yang bisa membawa…”

” Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana Anda berada. ..”

Saat terbaik adalah sekarang. …

Belajar dari kemarin, hidup untuk hari ini, harapan untuk besok. Yang penting adalah untuk tidak berhenti bertanya (enstein)

” Hidup itu layaknya deretan kata yang hanya menyisahkan beberapa spasi. Terkadang kita butuh koma (,) untuk mengistirahatkan perjalanan kita. Sering kali muncul tanda tanya (?) saat kita kehilangan arah. Sesekali juga menghadirkan tanda seru (!) saat kenyataan tak sesuai dengan yang diharapkan. Dan sadarlah bahwa perjalanan ini terkadang butuh peta & catatan sebagai petunjuk dan evaluasi jalan kita. Yakinlah bahwa titik (.) bukan akhir dari segalanya, karena masih banyak kata yang harus diuntai agar menjadi sebuah cerita kehidupan yang indah…”

- Selemah apapun musuhku, aku tidak akan meremehkan mereka

- Penderitaan membuatku semakin kuat dan berkembang

- Aku hanya ingin hidup seperti awan. Bebas, dan tenang. Ketika aku tua nanti, aku mempunyai seorang istri dan mempunyai 2 anak, satu laki-laki dan satu perempuan, lalu aku meninggal duluan, dan begitulah kehidupanku berlangsung. Sayangnya semua tidak semudah itu, merepotkan sekali! (hahahha)

- Kalau itu artinya cerdas ..bodoh selamanya pun aku tak keberatan

- world : “Tidak ada orang yang mampu mengalahkanku”
me : “Catat aku sebagai orang pertama yang melakukannya”

- Lelaki manjadi semakin kuat saat ditolak..

- Semua yang memiliki bentuk, suatu saat akan membusuk

- Kalian hanya hidup sekali. Jalani kehidupan dan matilah dengan jalan kehidupan yang kalian inginkan.Tapi apapun jalan yg kalian pilih, jangan lupa untuk melindungi orang yg berharga dalam hidup kalian

- Impian Manusia tidak akan pernah berakhir

- Luka dipunggung merupakan aib bagi seorang lelaki
- Yang penting bukanlah dari mana kamu dapat pengetahuan itu, tapi di mana kamu bisa menerapkannya

Pastikanlah bahwa kepala Anda tidak lebih tinggi dari topi anda | Hanya ikan yang bodoh yang bisa dua kali kena pancing dengan umpan yang sama |Malam berganti pagi, lorong gelap berujung terang dan badaipun akan mereda..begitupula air mata duka akan mengering, keluh kesah mereda dan damai bersemayam dihati|

- Adalah tugas seorang pria untuk memaafkan kebohongan wanita !!

Pedoman Kehidupan:

Barangsiapa tidak mengenali jati dirinya,  dia  akan terjerumus

Barangsiapa takut kepada Allah, dia akan selamat

Barangsiapa belum pernah mencuba sesuatu,  dia akan tertipu

Barangsiapa menentang kebenaran, dia pasti akan terkalahkan

Barangsiapa mengetahui akan datangnya ajal, pasti akan berkurangan angan-angan dan cita-citanya

ajaran seorang ayah dan ibu seperti karangan bunga yang indah bagi kepalamu dan suatu kalungan bagi lehermu

Setitik air boleh membelah batu bukan kerana derasnya tetapi dengan seringya ia menitik

Tiada bantal yang lebih lembut melainkan ribaan ibu sendiri

Categories: kata kata mutiara

Sebongkah Cinta Untuk Mu

Juni 15, 2011 2 komentar

ketika kulirik jam-jam menyala
ternyata sudah kesekian kali aku berdiri
gelisah masih kupendam
walau terus kutunggu

pedih..
pedih terasa hatiku miris
mengharap kebaikan untuk memihakku
namun tak jua kudapatkan

hati tak kuasa berperang rasa
haruskah kubuang hatiku untuknya?
tulus hatiku padamu
walau jam-jam yang menyala
telah hanyut dalam dinginnya suasana
walau harus selamanya ku menunggumu

bodoh..
sangat bodoh
kubiarkan diriku termakan lalu
kubiarkan harapan itu tumbuh tak berbunga

biarlah..
biarlah dan biarlah
asalkan dia bisa bahagia
karna aku juga tau
kalau cinta tak harus memiliki

tapi..
aku hanya ingin
sebongkah cinta ini tetap kuberikan hanya untuknya..

Categories: Puisi

Kisah Sayyidina Umar dan Gadis Jujur

Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik, Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air, supaya penghasilan kita cepat bertambah.”

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibunya yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.
“Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam Khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

“Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar.“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”

Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra Khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.“ Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.

Putra Khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.
“Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra Khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
“Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar.

Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.
Bagaimana Khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
“ Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas Khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab …

Categories: Kisah & Teladan

Kisah tentang sebuah kepercayaan

Kisah tentang Sayidina Umar Bin Khatab ketika beliau menjabat sebagai khalifah.

Suatu hari, datanglah ke kalangan beliau yang tengah bersama para sahabat, 3 orang pemuda. Dua orang diantara mereka memegangi yang ketiga. Sang khalifah bertanya apa tujuan mereka. Kedua orang pemuda itu menjawab bahwa pemuda yang ketiga telah membunuh ayah mereka. Mereka menangkapnya dan membawanya kepada khalifah untuk meminta keadilan.

Sayiddina Umar bin Khatab bertanya kepada pemuda ketiga apakah semua benar adanya. Ia menjawab, “Ya, memang benar. Tidak ada seorangpun saksi kejadian itu, kecuali Allah. Dengan seizinmu, akan kuceritakan apa yang terjadi, dan akan kuterima dakwaan apapun yang akan engkau ajukan. Aku datang ke Madinah pagi ini untuk mengunjungi makan Nabi yang mulia. Kuikatkan kudaku ke sebatang pohon kurma ditepi jalan dan aku membersihkan diri dari debu jalanan.

Belum lagi aku selesai, kudaku mulai memakan buah kurma. Ketika aku mencoba menangkapnya, ia mematahkan salah satu cabang pohon kurma. Saat itu kulihat seorang lelaki tua berlari menghampiriku. Sambil marah, lelaki itu mengambil sebutir batu besar dan melemparkannya ke arah kudaku. Batu itu membentur kepala kudaku dan kuda keakunganku roboh ke tanah, mati. Aku jadi ikut marah. Kuambil batu yang digunakan untuk melempar kudaku tersebut untuk melempar kembali ke arah orang tua tersebut. Ia juga akhirnya roboh ke tanah setelah terkena lemparan batu tersebut, roboh dan mati.

“Aku bisa saja kabur dan melarikan diri, tidak akan ada orang yang tau siapa yang telah membunuh orang tua tersebut. Tetapi aku lebih suka menjalani hukuman di dunia ini, daripada nanti di akhirat.

Aku tidak bermaksud membunuhnya, aku hanya dikuasai oleh amarah ketika dia membunuh kudaku.

Sayidina umar bin khatab berkata, “Engkau telah mengakui suatu kejahatan besar, sesuai dengan Hukum Islam, hukumannya adalah mati. “

Walaupun diancam dengan hukuman mati, pemuda tersebut tetap bersikap tenang. Ia berkata, “sebagai seorang beriman, aku terikat kepada hukum. Akan tetapi, saat ini di kampung asalku, aku sedang memegang harta seorang anak yatim. Kusembunyikan di suatu tempat yang hanya aku saja yang mengetahuinya. Seandainya aku dihukum mati sekarang, harta itu bisa hilang. Tolonglah beri aku waktu selama 3 hari, sehingga anak yatim tersebut tidak akan sengsara hidupnya. Biarkan aku pergi kesana dan menyerahkan harta itu kepada pemiliknya.”

“Aku tidak dapat mengabulkannya,” kata sayiddina umar bin khathab, “Aku hanya bisa mengizinkanmu pergi apabila ada orang yang dapat menjamin kehadiranmu kembali ke sini.” Sang pemuda berkata, “Wahai Khalifah, aku tidak melarikan diri ketika orang tua itu terbunuh. Waktu itu aku tidak mau, sekarang pun aku tidak mau, karena hati nuraniku merasa takut kepada Allah.” Sayiddina Umar berkata, “Anakku, aku percaya bahwa engkau tidak akan melarikan diri, akan tetapi hukum melarangku untuk melepaskanmu tanpa jaminan.” Sang pemuda menatap para sahabat yang hadir disitu. Ia menunjuk kepada Abu Dzarr al-Ghifari dan berkata, “Ia akan menjamin aku kembali ke sini.” Sayidina Umar bertanya kepada Abu Dzarr apakah ia setuju. “Ya aku setuju”, kata Abu Dzarr “Aku menjamin bahwa pemuda ini akan kembali dan menyerahkan dirinya sendiri dalam tempo tiga hari.“ Tidak ada yang berani membantahnya, mengingat beliau adalah seorang sahabat Nabi yang paling terpercaya.

Sang pemuda berangkat ke kampung asalnya. 3 hari berlalu dengan cepat. Kedua putra si orang tua yang terbunuh itu datang kembali menghadap Sayidina Umar. Sang pemuda itu belum ada disana. “Abu Dzarr,” teriak mereka, “Kemana orang yang engkau jamin itu? Engkau berani menjadi jaminan dari orang yang tidak engkau kenal, orang yang belum pernah bertemu sebelumnya denganmu. Apabila ia tidak datang kembali, kami tetap akan menuntut balas atas kematian ayah kami.

Dengan tenang Abu Dzarr berkata, “Tiga hari belum lagi berlalu. Seandainya si pemuda tidak muncul, aku yang akan menanggung hukumannya. Para sahabat yang hadir merasa terharu.

Khalifah Umar berkata, “Abu Dzarr, pemuda itu bisa jadi terlambat datang, tetapi engkau menjaminnya hanya untuk 3 hari, sebagaimana disaksikan Allah dan para sahabat yang lain. Bila terjadi demikian maka aku terpaksa melaksanakan hukuman itu kepadamu.”

Semua yang hadir merasa terharu, mengingat Abu Dzarr adalah salah satu diantara mereka yang paling taat. Mereka menawarkan uang ganti darah kepada kedua pemuda yang ayahnya terbunuh itu. Tetapi mereka menolak dan bersikeras meminta ganti jiwa bagi jiwa ayah mereka.

Ketika waktu hampir saja berlalu, tiba-tiba muncullah pemuda yang ditunggu-tunggu, tubuhnya penuh debu dan terlihat kelelahan. Dengan terengah-engah pemuda tersebut menghampiri Umar. “Aku siap untuk menerima hukuman yang telah dijatuhkan untuk aku”, ucap pemuda tersebut.

Umar dan orang-orang yang berkumpul disitu merasa terharu sekaligus kagum dengan kejujuran atas perkataan pemuda tersebut. Begitu juga dengan kedua putra yang orang tuanya dibunuh oleh pemuda tersebut. Mereka sangat kagum dengan kejujuran kata-kata pemuda itu.

Lantas Umar berkata, “Wahai anak muda, hatimu sungguh mulia, engkau bisa saja melarikan diri dari hukuman yang telah dijatuhkan kepadamu tanpa harus kembali kemari dalam jangka waktu yang telah ditentukan.”

Sang Pemuda menjawab, “Bagi ku pertanggungjawaban kepada Allah lebih berat daripada kepercayaan yang diberikan Sayidina Umar bin Khatab kepada aku, laksanakanlah hukuman itu, aku siap dan rela untuk menebus kesalahanku demi ketentuan dan hukum yang berlaku.”

Umar bin Khattab menghampiri kedua putra yang orang tuanya terbunuh, “Apakah kalian sudah siap untuk menyelenggarkan pengadilan ini ?”

Salah satu dari kedua orang tersebut berkata,” Sayidina Umar bin Khattab, dengan ini kami membatalkan tuntutan kami untuk menghukum dan mengadili pemuda tersebut. Kami sangat menghargai kejujuran beliau, dan kami merasa sangat kecil sekali dihadapan beliau dengan segala kejujurannya. Kami ikhlas untuk mencabut hukuman tersebut.”

Umar berseru.” Kalian yang hadir disini menjadi saksi atas keputusan yang dibuat oleh kedua putera yang ayahnya terbunuh oleh pemuda ini!”

Pada akhirnya pemuda tersebut luput dari hukuman yang telah dijatuhkan karena keikhlasan dalam melaksanakan kepercayaan yang diberikan.

Categories: Kisah & Teladan

Kisah Sayyidina Umar bin Khatab dan Burung Pipit

Suatu saat ketika Sayyidina Umar sedang berjalan-jalan di sepanjang gang-gang kota Madinah. Dia melihat seorang anak kecil mempermainkan seekor burung pipit di tangannya. Anak kecil itu melilitkan tali di kaki si burung dan menarik-nariknya ketika burung itu akan terbang. Melihat hal ini Sayyidina Umar merasa kasihan. Akhirnya Sayyidina Umar pun membeli burung itu dengan beberapa dirham dan menerbangkannya ke angkasa.

Suatu ketika setelah Sayyidina Umar wafat, masyarakat bermimpi berjumpa dengannya. Di dalam mimpi mereka bertanya, “Apakah yang sudah Allah perbuat padamu wahai, Amirul Mukminin?”

Sayyidina Umar menjawab, “Allah mengampuniku dan tidak menyiksaku”

“Sebab apakah? Sifat dermawanmu kah? Keadilanmu kah? Atau kezuhudanmu?”, tanya masyarakat.

“Bukan. Tetapi begini. Ketika aku kau baringkan di liang lahat, lalu kau kubur, dan kau tinggalkan sendirian, aku didatangi dua malaikat. Mereka sangat menakutkan sehingga melayanglah akalku dan gemetarlah sendi-sendiku. Lalu mereka memegangku dan mendudukanku untuk menanyaiku. Namun sebelum mereka menanyaiku aku mendengar suara tanpa rupa (datang dari Allah), bunyinya, “Tinggalkan saja hamba-Ku ini dan jangan kau takut-takuti. Aku berbelas kasih padanya sebagaimana ia berberbelas kasih pada seekor burung pipit saat ia di dunia”, demikianlah cerita Sayyidina Umar di dalam mimpi masyarakat.

Hemmmm. Siapa yang nggak tentrem hatinya, tuh , denger cerita langsung dari Sayyidina Umar dari mimpi. Ini pelajaran berharga buat kita. Bahkan seekor burung pun dapat menjadi persaksian baik bagi kita di alam kubur. Ayo deh kita sama-sama berbuat baek. Inget, setiap makhlik di bumi ini adalah hamba Allah. Jika kita berbuat baik pada mereka pastilah kelak akan ada imbalan untuk kita. Satu lagi tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang berpikir

Categories: Kisah & Teladan

kisah sayidina umar dan yahudi

Amr bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir pada saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab. Sejak menjabat sebagai Gubernur,dia sering menghabiskan waktunya tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi

“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah masjid,” gumam sang gubernur.

Orang Yahudi itu pun dipanggil menghadap sang gubernur. Amr bin Ash menawarkan akan membeli gubug milik Yahudi tersebut. Tapi Si Yahudi itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.

“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam Sang Gubernur.

Sepeninggal Si Yahudi itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara Si Yahudi tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusasaannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan Gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khatab.

Orang Yahudi itu pun pergi ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin Khatab. Sesampainya di Madinah ia bingung di manakah letak Istana Sang Khalifah.

“Dimanakah istana raja negeri ini?” tanya seorang Yahudi itu pada seorang lelaki.

“Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu,” jawab lelaki yang ditanya.

Dalam benak si Yahudi itu terbayang keindahan istana Khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh Khalifah.

Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuma satu batang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, “Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khatab,” tanyanya.

Lelaki yang ditanya bangkit, “Akulah Umar bin Khatab.”

Yahudi itu terbengong-bengong, “Maksud saya Umar Sang Khalifah, pemimpin negeri ini,” katanya menegaskan.

“Ya, akulah Khalifah pemimpin negeri ini,” kata Umar bin Khatab tak kalah tegas.

Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan kepalang. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.

Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.

“Di manakah istana tuan?” tanya Si Yahudi di antara rasa penasarannya.

Khalifah Umar bin Khatab menuding, “Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.”

“Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?”

“Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah.”

Yahudi itu terdiam mendengar ucapan Umar bin Khatab.

“Siapa anda dan ada perlu apa mencari saya?” tanya Umar bin Khatab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang Khalifah yang tinggi besar dan penuh wibawa, Yahudi itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan Khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.

Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang Yahudi itu.

“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.

“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” Yahudi itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.

“Berikan tulang ini pada Gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khatab.

Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.

“Pulanglah, lakukan apa yang kukatakan.” Ucap Sang Khalifah.

Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan Khalifah dan Gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si Yahudi.

Sekembalinya ke Mesir si Yahudi pergi menemui Gubernur Amr bin Ash dengan membawa tulang dari Khalifah Umar bin Khatab. Yahudi itu semakin tidak mengerti dengan tingkah laku Gubernur Amr bin Ash setelah menerima sepotong tulang yang dibawanya. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan kesungguhan perintah Gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.

“Tunggu!” teriak Si Yahudi.

“Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Ucap Si Yahudi dengan wajah teramat sangat kebingungan.

Amr bin Ash memegang pundak Si Yahudi, “Tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”

“Tapi…..” sela Si Yahudi.

“Karena berisi perintah Khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.” Kata Gubernur Amr bin Ash.

“Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk jika tidak berlaku adil. Sedangkah huruf alif yang digoreskan di atas tulang itu artinya berlaku adil dan luruslah kamu pada siapapun, atau aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” jelas Sang Gubernur

Categories: Kisah & Teladan

Kehidupan Mujahid

Setiap mujahid sejati harus tahan menghadapi segala penderitaan dan risiko perjuangan,sebab perjuangan menuntut pengorbanan.Tahukah anda apa yang pertama kali harus dikorbankan seorang mujahid ? perasaannya ! ya ! yang paling pertama ia akan rasakan adalah ;korban perasaan’’, jika dengan itu ia tabah, ia akan berhadapan dengan hal lain yang menuntut ‘’pengorbanan tenaga’’ meningkat pada pengorbanan harta’’, hingga akhirnya ‘’pengarbanan jiwa’’sekalipun!

Dalam firmannya Alloh mengatakan:
”Kalian sungguh sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu. Dan juga kalian sungguh sungguh akan mendengar ejekan yang menyakitkan hati dari orang orang ahli kitab sebelum kalian dan dari orang orang musrik. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut di utamakan.”[Q.S.3:186] Read more…

Categories: jihad line
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.